Renungan Ramadhanku ….

20 09 2008

Hari ini Ramadhan mendekati hari-hari akhirnya. Selalu ada gundah di hati, manakala menyadari Ramadhan begitu cepat berlalu… dan begitu sedikit waktu, pikiran, tenaga, dan lainnya, yang tercurah justru tidak untuk mendapatkan kemuliaan Ramadhan. Apa iya ya ? Coba deh aku flashback … awal Ramadhan, masjid penuh sesak, Allahu Akbar …. begitu besarnya rahmat dan kasih-Mu … semua orang tergerak untuk ke masjid, menyongsong ramadhan dengan suka cita. Suka cita ya ? Apa motif suka citanya ? Karena boleh keluar malam (saat tawarih dan subuh), atau karena bisa ketemu dengan “pujaan hati” ? Siapa sih pujaan hatimu ? Bukan Allah ya ? Atau para imam dan pemberi nasehat bisa berlomba-lomba menasehati orang lain. Mendapatkan kesempatan untuk menghakimi. Begitukah contoh dari Rasulullah ? Jangan2 aku juga termasuk ya ? Atau pameran baju, mukena, dll, sampai pameran makanan untuk ta’jil ? Kita tidak menafikan segi manfaat, tapi tiap2 dari kita mempunyai tanggung jawab pribadi dalam menjalani seluruh ritual ramadhan, yang dimulai dari bersihnya, tulusnya, ikhlasnya niat dari perbuatan kita. Dan tidak ada yang mengerti niat kita, kecuali diri kita sendiri dan Allah Yang Maha Mengetahui. Kita tidak ragu kan kalau Allah Maha Mengetahui ?

Aku mencoba memperhitungkan, belanja sehari-hari untuk makan, khususnya untuk sahur dan berbuka. Kenapa lebih besar daripada hari-hari biasa ? Apakah aku ketakutan bahwa nanti aku akan kelaparan saat berbuka dan saat sahur ? Atau aku takut tidak mendapatkan bagian karena saudara2ku seiman yang lain juga sedang puasa dan membutuhkan makanan juga? Atau aku berada dalam puncak kerakusanku, justru saat ramadhan ini ? Apakah kapasitas perutku menjadi berbeda saat ramadhan tiba ? Atau .. jangan2 aku tidak yakin kalau rezeki dari Allah adalah pasti untuk tiap2 makhluknya ? Sepertinya … aku membela nafsuku dengan kedok ramadhan, berbuka dan sahur….

Aku lantas mencoba merasakan suasana sehari-hari. Di dunia kerja, ada yang berbeda, durasi jam kerja diperpendek. Entah apa sebabnya. Apa karena puasa membuat fisik menjadi lemah, sehingga kita harus mengurangi produktifitas atau diharapkan waktu yang lain untuk beribadah lebih banyak daripada hari-hari biasa ? Perlu diteliti kayaknya. Kulihat masih saja ada beberapa orang yang “berpuasa” saja, tapi tidak menjaga lidahnya, tidak menjaga aurat, tidak menjada amanah, tidak menjaga ibadah sholatnya. Duh ….aku bagaimana ya ? Jangan2 aku melakukan hal yang sama. Tapi .. Ya Allah … sungguh berat untuk bertobat kepada-Mu … padahal Engkau Maha Memaafkan … tapi kenapa hati ini beku … ya Allah … kenapa aku tidak takut pada neraka-Mu yang jelas adanya … Ya Allah … kenapa dengan diriku ini .. kenapa aku tidak bisa menangisi diri sendiri ? Bagaimana jika aku mati dalam keadaan bermaksiat kepada-Mu … beranikah aku berharap akan ampun-Mu jika aku tidak berusaha mengubah diri …

Aku tidak pernah tahu kapan kematianku akan tiba … bagaimana jika ini adalah Ramadhan terakhir yang kutemui .. dan aku masih ngotot untuk tetap bertobat tahun depan ? Bagaimana jika tidak ada tahun depan ? Mengapa aku sulit sekali menerima petunjuk-Mu ya Allah … padahal hampir setiap hari aku membaca Al-Quran ? Aku khawatir … aku akan menjadi penghuni neraka-Mu Ya Allah … Tolonglah jiwaku ini Ya Allah …. berikan aku kekuatan untuk bertobat kepada-Mu, walaupun pahit …


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: