Polisi Demo … kekacauan Indonesia sampai pada babak berikutnya

17 10 2008

Fenomena demo di Indonesia yang dimulai dari awal era reformasi, yang berlanjut hampir tiap hari, ternyata berdampak begitu luas. Dalam sistem demokrasi, unjuk rasa atau demo diharapkan menjadi salah satu kontrol sosial (masyarakat) terhadap sistem itu sendiri. Namun yang kadang menjadi pertanyaan adalah seberapa validkah kontrol itu dapat dipertanggungjawabkan dari segala aspek, terutama aspek kemanfaatan bersama pada skala makro.

Saat ini nyaris tiada hari tanpa demo. Bahkan mungkin dalam satu hari terjadi lebih dari satu kejadian demo. Dengan coverage media elektronik (baca : TV dan internet) yang begitu luas dan dalam, peristiwa demo yang selalu terjadi tidak sekedar menjadi santapan media, namun secara otomatis masyarakat akan belajar dari “pembiasaan” ini dan menganggap hal ini adalah salah satu metode yang selalu benar. Sampai di sini, kesimpulan ini bisa menjadi sangat subjektif dan jika tidak berpikir lebih jauh maka akan terjadi efek domino yang merugikan.

Oke, itu awalnya. Hari ini, Jum’at, 17 Oktober 2008, di RCTI (kalau tidak salah) saya melihat berita demo Brimob di Makassar. Bahkan sampai dua kompi. Brimob pula. Ada juga versi onlinenya di http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/edisi-denpasar/index.php. Berikut ini kutipan dari situs tersebut : “ Puluhan anggota Brimob membawa poster ketika menggelar aksi unjukrasa di Mapolda Sulselbar, kemarin. Mereka menuntut pihak Primkoppol Sat Brimob, mengembalikan dana simpanan sebesar kurang lebih Rp2,9 miliar yang diambil dari pemotongan gaji mereka sebesar Rp50.000 setiap bulan.”

Polisi Demo

Polisi Demo

Kalau sekedar melihat dari kejadian demonya, hal ini bukanlah hal yang luar biasa. Namun karena yang demo adalah polisi, maka hal ini menjadi sangat menarik. Mari coba kita lihat dari berbagai aspek.

Pertama. Polisi, adalah pengayom dan pelindung masyarakat. Pada kejadian demo biasa, umumnya warga masyarakat yang ingin berdemo, pergi ke kantor polisi untuk minta surat ijin unjuk rasa, sekaligus pengawalan jika diperlukan. Bagaimana halnya jika polisi yang demo ? Pada siapa ijinnya ? Agaknya pemerintah perlu segera merumuskan hal ini. Atau, bagaimana jika pertanyaannya diganti menjadi : Kenapa polisi musti demo ?

Kedua. Polisi dalam konteks kepolisian atau korps, pasti menganut sistem rantai komando, di mana perintah komandan adalah mutlak harus dipatuhi. Jika kita masih mempercayai sistem ini, tentunya polisi yang demo akan dianggap oleh masyarakat bahwa, demonya mungkin atau pasti diperintah oleh atasannya. Tapi jika pakem rantai komando sudah tidak dipatuhi, maka BAHAYA. Inilah titik krusialnya. Bagaimana mungkin suatu korps tidak mematuhi rantai komando ? Tentu ada banyak hal yang menjadi alasannya. Namun tetap saja mengkhawatirkan masyarakat luas, bagaimana jika nanti banyak yang tidak patuh pada rantai komando, dengan alasannya masing-masing. Kekacauan Indonesia memasuki babak baru. Kita akan sampai pada era ketidakpercayaan publik. Kita lihat saja buktinya pada Pemilu 2009 mendatang.

Ketiga. Dalam berita tadi, disampaikan bahwa alasan demo adalah karena ada sunatan tunjangan kesejahteraan oleh pejabat lama. Menarik disimak bahwa demo ini tidak ditujukan kepada pejabat yang sedang menjabat, namun kepada pejabat lama. Saya masih berasumsi bahwa polisi2 yang demo masih menghormati rantai komando, setidaknya terhadap pimpinannya sekarang. Namun tidak untuk pimpinan yang lama. Inti perkara, PENYELEWENGAN JABATAN, menjadi pokok masalahnya, yang berujung pada tindakan KORUPSI. Inilah benalu masyarakat yang sesungguhnya.

Inilah momentum berikutnya di mana Indonesia mencapai babak kekacauan berikutnya. Saya sajikan pertanyaan bagi kita semua : Bagaimana mental kita ini, kenapa selalu saja fenomena KORUPSI hampir selalu menjadi pangkal perkara. Inikah budaya bangsa kita ? Yang kedua : jika Anda punya kepercayaan pada lembaga negara, siapa atau apa yang Anda percayai sebagai yang masih mampu memegang amanah ?


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: