Renungan

Orang pemberani.

Sering kita mendengar si fulan disebut-sebut teman2nya sebagai orang pemberani. Alasannya, dia adalah satu2nya orang di lingkungannya yang berani melewati kompleks kuburan tua yang dikenal sangat angker di desanya. Bahkan tak cuma itu, dengar2 dia juga berani duduk2 di lingkungan kuburan itu di malam hari, sendirian pula. Ini membuatnya dijuluki si pemberani. Lain lagi dengan si fulan yang lain. Teman2nya menjuluki dia si pemberani, karena dia berani kepada hampir semua orang. Dia tidak takut berhadapan dan berkelahi dengan preman pasar. Atau dia juga tak segan bersitegang dengan pimpinannya, tak peduli posisinya benar atau salah. Di lain waktu, kita mendengar kata2 berani ini dipadukan dengan kata2 yang lain. Seperti berani kepada orang tua, berani kepada guru, dan sebagainya. Konotasinya bisa positif atau negatif, tergantung dari cara pandang dan pengalaman yang bersangkutan atau yang mengalami kejadian tersebut.

Sejenak saya tertegun, dengan kata2 berani ini, dan pada suatu pagi saat pulang sholat shubuh dari masjid, saya terhenyak oleh kesadaran yang diberikan oleh Allah, insya Allah. Saya sempat berhenti berjalan, sejenak. Sambil berjalan pulang, saya memikirkan suatu kenyataan bahwa di sekitar saya ternyata terdapat buanyak sekali orang-orang berani. Di satu sisi saya bersyukur, namun di sisi lain saya merinding. Apa pasal ? Karena orang-orang yang tadi saya sebut buanyak tadi adalah orang-orang yang paling pemberani (pokoknya paling berani dari paling terberani di dunia) namun jumlahnya banyak. Kadar beraninya ini benar-benar di atas takaran. Ajaibnya juga, orang2 ini taj harus mereka yang sudah dewasa atau baligh, namun mereka yang masih anak2 atau orang2 tua bahkan jompo, dengan keyakinan mereka, mereka bisa digolongkan ke dalam kelompok berani sekali ini.

Sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya, apa alasannya sehingga mereka ini disebut pemberani ? dan bagaimana mungkin jumlahnya bisa sedemikian banyaknya ? Oke, akan kita bedah bersama-sama. Mereka ini memang layak disebut paling pemberani, bagaimana tidak ? Mereka inilah orang-orang yang berani menentang perintah Allah. Coba Anda pikir, sederhana saja, kalau si A disebut berani kepada hantu, jin, atau apapun, itu tidak ada apa2nya dibandingkan dengan orang yang berani kepada Allah. Karena Allah-lah pencipta dirinya dan selain dirinya.

Pertama kesadaran ini timbul, saya betul2 terhenyak. Kenapa ? Karena ada puluhan, ratusan, atau ribuan orang-orang berani seperti ini di sekitar kita. Apa yang menjadi modal bagi manusia untuk berani kepada Allah ? Di bagian mana dan atas alasan apa, seseorang menjadi berani kepada Allah ? Mengingkari perinta2Nya atau bahkan memusuhiNya ? Bahkan tidaklah nafas yang dia masuk dan keluarkan bisa terjadi hanya karena atas ijin dan kuasaNya. Di antara sekian banyak tanda vital kehidupan yang diberikan Allah kepada kita, mana yang bisa kita kendalikan ? nafas ? seberapa lama ? detak jantung ? aliran darah ? gelombang listrik di otak Anda ? atau desir rasa yang Anda rasakan ? Dengan kelemahan dan ketergantungan yang total seperti itu, bagaimana mungkin seseorang bisa berpikir, bersikap, dan bertingkah laku berani kepada Allah ?

Tidak perlu berpikir panjang untuk mencari contohnya. Bahkan saat kita mencela apa pun selain bukan yang dituntunkan oleh Rasulullah, maka itu sudah sikap berani kepada Allah ? Contoh yang jelas, tentu lebih banyak bisa kita dapatkan. Tidak mau sholat berjamaah, atau bahkan tidak sholat sama sekali, dengan alasan yang jelas2 kalau dia mau berpikir sedikit saja, alasan itu menjadi tidak berarti apa2. Kenapa ? Karena adanya kenyataan bahwa saat kita bisa membaca tulisan ini kita berarti masih hidup, adapaun kapan mati itu tetap misteri. Saat kepastian datangnya sang misteri ini tidak dapat ditolak oleh siapapun, lantas apa yang menjadi modal bagi kita untuk berani kepada Allah ?

Berani kepada Allah … entah apa modal kita … entah apa yang kita harap … sedang kita tahu betul mati sedang menunggu di ujung waktu kehidupan kita. Tak semestinya detak waktu yang senantiasa berkurang tiap detiknya ini kita isi dengan kesia-siaan, karena berani kepada Allah, adalah sebuah kesia-siaan yang nyata. Adapun tunduk dan patuh kepada Allah, seperti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw adalah keberhargaan waktu yang paling berharga dari semua nilai kehidupan yang ada di dunia ini. Dan sungguh berbeda jauh, antara kesia-siaan dan keberhargaan.

5 responses

6 02 2009
adi setiawan

Assalam…. wr.wb

hallo, udah lama ya, kita tidak jumpa
wajah di fotomu, masih tetap sama dengan wajahmu yang dulu.
hanya sedikit yang membuatku kaget & woow keren
kumis & jenggot = masih tetap sama -> hitam+panjang (pake shampo apa?)
boleh tertawa, tak boleh marah.
————————————————————
terimakasih atas dituliskannya kisahmu, semoga dapat membuat yang
membacanya menjadi tobat atau lebih ber taqwa(termasuk diri saya)
jika diperkenankan, ijinkan saya untuk menawarkan = ‘mari kita kemana ?’

Thank you & See you Next Time
call\sms : 08174175716
Adi Setiawan
Murid SMK Lentera angkatan pertama

Wassalam…. wr,wb

9 02 2009
pakpur

hehe .. adi .. adi yg itu😉 di mana dirimu skrg fren ?? smoga sehat selalu y? btw,tgl 22 feb 09 maen ke pendopo kab kendal y ? ada acara seminar nasional TI.

13 02 2009
***************************

**************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************

11 02 2010
majelisdikdas

mungkin bagi mereka, Allah itu terlalu sulit untuk digapai. ABSTRAK kata orang-orang mah. sehingga ketika mereka diajak untuk mendekat, mereka malah balik bertanya: “untuk apa mendekatkan diri kepada Allah”. dan yang paling penting, bagi mereka Allah itu tidak bisa dijadikan sandaran kehidupan (pragmatis), karena syetan lebih responsif ketimbang ALlah. wallahu a’lam. astaghfirullah…

4 03 2011
rukamto

Ya itulah manusia bisanya cma berkata tak mau waktu d kasih kaca. Padahal gaya seperti apa tetap atas taqdir yg kuasa.
Oalaaah mas makasih renungannya. . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: